Pengenalan


Pengenalan

 

            Perkenalkan nama saya Rio Ilham, saya lahir di Rengat pada tanggal 23 Mei tahun 1996 yang pada saat itu berdasarkan ibu saya, saya dilahirkan ketika adzan maghrib berkumandang. Padahal proses melahirkan dilakukan sudah dari siang hari, namun menurut ibu saya dikarenakan saya tidak ingin keluar maka prosesnya bisa begitu lama. Dikarenakan saya lahir pada bulan Mei tentu saja saya memiliki zodiac gemini, yang dimana diyakini Sebagian orang apabila orang memiliki zodiac gemini tersebut memiliki wajah dua atau bahasa yang lebih jelasnya memiliki sifat yang berbeda tergantung situasi serta kondisi yang dihadapinya. Kemudian, berdasarkan golongan darah, saya memiliki golongan darah B yang dimana merupakan turunan dari ibu saya sendiri, yang dimana jika saya baca beberapa referensi orang yang memiliki golongan darah B tersebut merupakan orang yang gampang sekali tertular penyakit dan sebagainya, tapi entahlah.

            Dikarenakan saya lahir pada tahun 1996, tentu saja hal tersebut membuat saya menjadi anak yang paling tua, serta cucu yang paling tua baik itu dikeluarga sebelah ayah maupun sebelah ibu saya. Kata orang, kalua anak paling tua dan cucu paling tua akan dimanja selalu. Apalagi, saya merupakan anak laki-laki sendiri, tentu saja hal tersebut membuat pemikiran orang menyatakan kalau saya akan dimanja dan disayang. Untuk dimanja oleh nenek dan datuk saya mungkin itu benar. Namun, untuk dimanja-manja sama orang tua saya, saya rasa itu sulit dikatakan, dikarenakan dari kecil saya selalu diajarkan untuk menjadi anak yang kuat dan mandiri. Bahkan untuk mencapai hal tersebut, kayu, sapu bahkan untuk diikat pada sebuah tiang dirumah kami dahulu sudah saya alami. Namun, terlepas dari hal tersebut saya merasa senang kala itu dikarenakan dibalik kerasnya orang tua saya, saya tau mereka saying kepada saya. Terutama ayah saya yang kalau diajak bicara selalu nyolotnya mintak ampun.

            Oh iya, berbicara mengenai adik, saya mempunyai 2 adik perempuan yang paling besar bernama Nova Rahmadani dan yang paling kecil bernama Sri Asih Rhisky yang dimana moto kedua adik saya adalah “kami senang melihat abang susah”. Hal tersebut membuat saya tertawa yang dimana moto hidup mereka saya jadikan bahan candaan. Namun, dibalik moto mereka yang seperti itu, meraka sangat peduli dengan abangnya terutama ketika saya mengalami kesusahan. Untuk adik saya yang paling besar, dia memiliki sifat yang cuek, kalau ngomong suka nyolot dan satu lagi pemalas. Namun, dibalik sifatnya tersebut dia pernah menangis ketika abangnya sakit dan juga mengalami kecelakaan pada waktu itu. Dia sangat peduli kepada adik dan abangnya, walaupun diantara kami bertiga dia yang paling lemot, namun untuk ketegasan diantara kami bertiga dialah yang paling tegas. Untuk adik saya yang paling kecil dia memiliki sifat yang tidak jauh beda dengan kakaknya, namun dia sedikit lebih aktif dibandingkan dengan kakaknya ketika dirumah saja. Namun, ketika diluar rumah dia lebih banyak melemparkan segala urusannya kepada kakaknya, abangnya ataupun orang tuanya. Namun, diantara kami bertiga dialah yang paling pintar dan yang paling di sayang oleh kakaknya.

            Dibalik itu semua, kami dilahirkan dari keluarga yang sederhana dikatakan berlebih terkadang berlebih, kalau dikatakan kurang terkadang kurang juga, jadi tidak kurang dan tidak pula berlebihan kali. Nama ayah saya Dasmun Ahmad yang merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara. Ayah saya lahir  di Bangkinang, 12 November 1968 serta memiliki golongan darah O, yang dimana jika dari referensi yang saya baca orang yang memiliki golongan darah O tersebut memiliki kriteria sifat yang tegas, serta cocok dijadikan seorang pemimpin. Dan hal tersebut terbukti dengan segudang prestasi yang dimiliki beliau, yang dimana informasi tersbut saya dapatkan dari almarhumah nenek saya sebelum beliau meninggal pada tahun 2019 beliau sempat bercerita kalau ayah saya adalah orang yang gigih dalam segala hal, sehingga memiliki segudang prestasi baik dalam hal akademik dan non akademik. Dan tentu saja, hal tersebut membuat saya selaku anak merasa bangga dan juga merasa iri kepada beliau. Yang bahkan pada usianya yang sudah menginjak 54 Tahun beliau masih aktif dalam bekerja demi menafkahi keluarganya, serta memiliki prestasi yang bahkan rasa mustahil untuk saya capai juga. Namun, hal tersebut membuat saya bangga akan ayah saya. Dibalik didikannya yang keras kepada saya, di satu sisi beliau adalah ayah yang lembut kepada saya. Yang dimana terkadang beliau menangis ketika saya melakukan sebuah kesalahan yang menurutnya sangat fatal. Yang bahkan ketika saya orang tuanya meninggal beliau tidak meneteskan air matanya. Dikarenakan beliau pernah berkata, seorang laki-laki pantang untuk mengeluarkan air mata, namun Ketika saya melihat beliau meneteskan air mata, disitu saya mengetahui bahwa air mata laki-laki sudah jatuh ketika sudah tidak mampu lagi untuk ditahan, dan air mata tersebut air mata ketulusan yang berasal dari hatinya.

            Kemudian seorang ibu yang bernama Yuliarti yang lahir di Sungai Pakning pada tanggal 17 Oktober 1970 serta memiliki golongan darah B. yah, golongan darah tersebut sama dengan saya. Tidak jauh berbeda dengan ayah saya, beliau adalah sosok yang tegas didalam mendidik anaknya. Terutama, dalam hal kebersihan diri serta lingkungan. Yang dimana apabila tidak berjalan dengan apa yang diinginkan oleh beliau, maka akan keluarlah ocehan yang terkadang membuat hati tersinggung juga, terkadang juga membuat tersenyum dan juga terkadang membuat bosan. Namun, dibalik itu semua saya yakin dan percaya itu adalah untuk kebaikan kami semua. Dan hal tersebut saya rasakan sebagian pada saat ini, yang dimana bisa mengurus rumah, memasak, menyuci dan yang paling penting merawat diri. Tidak jauh berbeda dengan ayah saya, ibu saya yang sudah tidak lagi muda di usianya yang sudah memasuki 52 Tahun, beliau masih semangat dalam mencari nafkah untuk kami anak-anaknya. Yah walaupun terkadang terjadi selisih pendapat antara ayah dan ibu saya, namun tujuan mereka tetap satu, yaitu ingin melihat anaknya bahagia dan sukses.

            Kami tinggal di sebuah daerah yang dibilang terpencil tidak juga, dibilang kotapun tidak juga, jadi bisa dibilang kami tinggal disebuah desa yang bernama Desa Sidomulyo yang berletak di Kecamatan Lirik Kabupaten Indragiri Hulu, yah jika dihitung jam dari Pekanbaru tempat saya menempa ilmu pada saat ini maka jarak tempuhnya selama 3 jam lebih sedikit. Berawal dari desa tersebut kisah saya berasal dan beranjak mulai dari kehidupan dimasa kecil yang dibilang bahagia hingga saya pergi menempa ilmu di Pekanbaru saat ini, dan inilah kisah ku sebagai Rio Ilham.

Komentar